Posted in Wedding preparation, Wedding thought

Dogma Pernikahan Pt.2: Dekorasi & Tips-Trik Urusan Dekorasi

Again, by personal experience and thought 🙂

Hal-hal yang biasa kita lakukan jika melihat quotation dekorasi:

“Harganya berapa?”

Tentu semua bride-groom to be sangat concern dengan budget terutama catering dan dekorasi, karena 2 hal itu yang mengambil proporsi budget paling banyak. Namun sebelum bertanya hal ini, ada baiknya ditelaah dulu item-item yang tertulis di quotation vendor. IMO, ada beberapa hal terpenting yang saya highlight dari sebuah quotation dekorasi:

Yang wajib ada:

  • pelaminan (dengan konsep pernikahan standing party dan no-mingle, konsep yang kebanyakan dipakai di Indonesia), disesuaikan dengan panjang ruangan.
  • kotak angpao dan backdrop kotak angpao. Biasanya untuk 400pax cukup 2 kotak, untuk 800 pax 4 kotak, 1000 pax ke atas 6-8 kotak.
  • standing flower. Harus tahu panjang lorong yang akan dilalui oleh pengantin. Sebagai komparasi, Auditorium Manggala Wanabhakti memiliki lorong yang sangat panjang sehingga standing flower paling tidak 8-10 buah. Jadi jika lebih kecil dari itu, paling tidak standing flower bisa 6 buah saja.
  • Backdrop musik. Simple saja.
  • dekorasi VIP area (jika ada)

Nah, biasanya suka ada tambahan-tambahan seperti:

  • pergola. Gak penting-penting amat tapi masih banyak yang memakai ini, saya juga kurang paham gunanya untuk apa. Pergola ini menguras kantong juga JIKA kita mintanya ukuran besar, lalu banyak bunga-bunga menggantung di atasnya. Di pernikahan internasional biasanya digunakan sekalian untuk first dancenya mempelai.
  • Centrepiece. Biasanya berbentuk rangkaian bunga di meja panjang atau meja bulat, ditaruhnya biasanya di area foyer (setelah area penerima tamu). Perlu diketahui centrepiece ini terkadang membuat budget bengkak juga karena isinya bunga semua.
  • Pohon-pohon. Untuk mengisi ruang yang kosong biasanya. Perlu diketahui pohon-pohon ini bisa memakan biaya 4-6jt per pohon.

Sejauh yang saya pelajari, ada beberapa tips dan trik untuk mengatasi kepusingan memilih vendor dekorasi:

1) Tentukan mana item yang kamu wajibkan untuk ada di pernikahan, lalu eliminasi atau downgrade item-item tambahan yang membuat budget bengkak. Contoh downgrade adalah, misal pergola ukuran 3x4m saja, lalu tidak ada bunga gantung; pohon cukup satu taruh di tengah, karena jangan lupa space lain toh akan digunakan oleh buffet dan pondokan catering.

2) Selektif dalam menentukan jumlah standing flower, pohon, centrepiece, dan backdrop musik. Untuk backdrop musik, tidak perlu aneh-aneh karena orang gak ada yang merhatiin segitunya kecuali penyanyinya artis. Kalaupun artis yang dilihat kan artisnya bukan backdropnya 🙂

3) Untuk menghemat budget tetapi tetap ingin dekorasi cantik, maksimalkan di pelaminan, downgrade yang lain. Kalo kamu anaknya setega itu, downgrade bener-bener toh orang cuma lewat doang dan fokusnya di pelaminan.

“Makin banyak bunga makin bagus!”

Hal yang perlu diperhatikan:

  • Bunga itu mahal. Jadi jangan harap nego harga jika kau keras kepala ingin bunga tetap sama tapi harga turun dratis. Hal yang bisa dilakukan adalah menanyakan apakah bunga yang dipakai lokal, import, atau mix antara lokal dan import? Sebagai pembanding bunga mawar lokal sebanyak 20 tangkai 95ribu, bunga mawar semi-import (biji import tetapi ditanam lokal) 20 tangkai 110 ribu, bunga mawar import seperti david austin harganya 1 tangkai 55 ribu. Dan, jangan lupa bahwa ada biaya jasa dekorator ya sebelum nego. Nego juga harus cerdas 🙂
  • Bunga yang digantung biasanya adalah bunga palsu. Sering lihat ceiling ballroom pernikahan yang banyak banget bunga gantungnya? Itu jelas bunga palsu. Mengapa? Karena bunga asli pasti lebih ringkih dari bunga palsu, dan bentuknya tidak seragam sehingga akan sulit untuk ditaruh di konstruksi yang beresiko, sehingga digunakanlah bunga palsu. Pada prinsipnya toh itu bunga palsu tidak akan disentuh tamu, maka jika bunga palsunya bagus ya tidak akan kelihatan palsu juga toh. Namun mengapa bunga palsu aja mahal bener untuk satu pergola? Masalahnya adalah, mau pergola ataupun ceiling, mereka butuh konstruksi. Konstruksi lah yang membuat item tersebut mahal. Jangan harap men-downgrade kan konstruksi karena yang ada malah nanti roboh.
  • Untuk budget, lebih cerdas jika kita menanyakan pada vendor bunga apa yang dipakai, lokal kah, import, atau mix? Jika sudah tahu, maka mintalah bunga-bunga yang terlihat mahal seperti mawar, snap dragon, seruni/krisan, hydrangea. Saya sangat menyarankan untuk tidak memakai gerbera, entah kenapa kesannya jadi murah, menurut saya loh ya. Jika memang masih mau tekan budget lagi, kalau rajin cari di pinterest sekarang banyak pernikahan yang lebih banyak greenery nya alias daun-daunan. Bisa juga loh jadi bagus asal memilih daun yang tepat! Tapi ingat, daun pun ada yang import dan lokal yah…senangnya, daun lokal sangat banyak pilihannya loh. Kalau bunga memang kadang ada beberapa yang tidak ada lokalnya. So choose wisely!
  • Jangan lupa samakan bunga catering dan bunga dekorasi supaya serasi. Biasanya bunga catering kan sudah tidak tambah biaya lagi, jadi bunga-bunga buffet ini bisa mengisi dekorasi juga loh!

Tips tambahan:

  • Harus jeli melihat styrofoam dekorator. Styrofoam memang enak dipakai karena bisa dibentuk sesuka hati, tidak seperti kayu. Tetapi harus diperhatikan bahwa tidak semua styrofoam hasilnya bagus loh. Jadi hati-hati banget milih dekorator jika kamu menggunakan styrofoam di nikahan kamu. Dan satu lagi, memakai styrofoam bukan berarti lebih murah loh. Jika pelaminan kayu itu tidak perlu konstruksi (jika pelaminan 2D ya, bukan 3D), maka styrofoam yang 2D pun harus pakai konstruksi karena gak bisa berdiri sendiri.
  • Jangan pakai styrofoam untuk pergola. Sumpah saya pernah ke nikahan temen yang pergolanya styrofoam, itu disenggol anak kecil aja goyang-goyang. Pilihlah kain untuk hemat budget atau jika ada budget berlebih pilih kayu ya.
  • Request warna bunga! Karena jika kamu ingin bunga berlimpah ruah, warnanya harus dipilih. Ada loh dekorator yang bener-bener terserah dia aja gitu bunganya tanpa peduli warna baju kita apa atau taplak cateringnya apa. Bener-bener kalau mau menyelamatkan dekorasi, harus pilih warna. Walau 100% bunga import kalau warnanya nano-nano sama baju bisa jadi gak bagus.
  • Ada satu tips jitu yang ingin saya bagikan: pakailah special lighting. Dengan dekorasi minim, tetapi jika dengan special lighting, semuanya akan berbeda. Butuh budget lagi memang sekitar 10-15jt paling murah, tetapi memang ngaruh banget. But, balik lagi ya ke budget.

Ga perlu panik dengan dekorasi, strict lah dengan apa yang menurut kamu wajib aja, lagi-lagi ini hanya wedding loh, bukan the marriage itself 🙂

Cheers,

Future-Bride

Posted in Wedding thought

Dogma Pernikahan Pt. 1: Makeup dan Baju

By personal experience and thought aja ya 🙂

1) “Makeup pengantin itu harus tebal, biar kelihatan dan beda sama tamu!”

Saya kurang paham ya kenapa bisa ada dogma seperti ini. Secara garis besar, jika ditelusuri, tiap daerah memiliki pahamnya masing-masing. Misal di Korea, pernikahan tradisional mereka dengan makeup bulatan merah di pipi (Aspaebek), Di area terpencil di Kosovo wajah pengantin dicat putih dan digambar dengan warna dan bentuk-bentuk sebagai simbol, di Ribnovo-Bulgaria juga begitu. Nah kalau di Indonesia, selain hiasan kepala yang variatif, makeup tebal pengantin memang sudah semacam tradisi, bahkan sampai sekarang. Ada beberapa pakem makeup tradisional yang di percaya tidak boleh ditinggalkan. Walau begitu mulai banyak makeup artist yang menjamur dengan mengusung konsep makeup-pengantin yang lebih natural, tidak mengubah total wajah pengantin, hanya emphasize yang sudah ada. HOWEVER, menurut saya tebal makeup para MUA ini enough untuk sebuah acara pernikahan, gak lebih gak kurang, just right.

IMO, yang perlu diperhatikan adalah cocok tidaknya si hiasan kepala dengan makeup yang diusung oleh para MUA ini. Saya menemukan ada beberapa MUA yang kurang ‘ nyambung’ makeupnya dengan hiasan kepala tradisionalnya. Misal, hiasan kepala jawa dan sunda atau padang, itu feel nya beda. Kalau Jawa makeupnya kurang bisa yang red-tone atau pinkish, tapi kalau Padang masih nyambung, begitu juga Sunda. Again, ini personal opinion. IMO, harus banyak-banyak lihat portofolio MUA dengan hiasan kepala tradisional untuk melihat kecocokannya.

Beda lagi jika temanya internasional, jaman sekarang sudah banyak MUA khusus makeup internasional yang lebih subtle dan sama sekali tidak merombak wajah si pengantin supaya match dengan wedding gown mereka yang subtle juga (rata-rata warna putih). Ini juga harus dilihat periasnya terbiasa makeup tradisional atau internasional. Bagus kalau bisa dua-duanya, jangan sampai salah pilih.

2) “Kita bisa tradisional tapi bisa dimodifikasi juga kok, Mbak!”

WELL. Once you decided to go with traditional, do not go half-hearted. Saya pernah lihat busana tradisional pengantin yang dimodifikasi, tapi hasilnya kayak editorial purposed, fashion purposed, jadi aneh kalau dipakai pengantin. Kalau mau setengah-setengah seperti itu lebih baik modern sekalian, atau tradisional sekalian. Mungkin dogma yang benar adalah: tradisional tapi tidak kuno. Misal, di adat Jawa ada baju beludru hitam pengantin dengan benang gim emas. Nah, jaman dahulu, gak pake baju di fitting-fitting, plek aja dipakai jadinya bajunya kegedean, gak pas badan, dan keliatan berat. Nah biar gak keliatan kuno, jaman Sekarang baju di fitting hingga pas badan, benang gimnya juga polanya mungkin berbeda tetapi tidak over-do. Hal-hal seperti itu yang Menurut saya harus di adjust, daripada memaksakan mix tradisional dengan modern.

ANYWAY, terkadang ‘modern’ yang dimaksud vendor adalah menggabungkan traditional dengan western style. Contoh paling gampang, kebaya dengan bawahan ball gown. Kebaya pas badan tapi bawahnya gede, I don’t know how it could work? Semuanya balik ke selera lagi, tapi yang perlu diperhatikan adalah, gak semuanya harus dimodernisasi kok. Choose wisely!

3) “Baju pengantin harus kebaya!”

Saya ga tahu juga bagaimana ceritanya kebaya menjadi busana nasional. Setahu saya, kebaya adalah punyanya suku yang tinggal di daratan Pulau Jawa, bener-bener disitu doang. Sisanya adalah baju kurung di daratan Sumatera, karena pengaruh islamnya yang kuat dan baju kurung bisa dibilang menutup aurat, lalu baju bodo untuk Sulawesi, dan daerah lain adalah baju berkain tenun. Sekarang mulai banyak pengantin yang kembali ke baju tradisional masing-masing sesuai adatnya dengan sedikit modifikasi (seperti yang saya sebut di atas). Tapi ada juga yang mix adat, misal suntiang Minang dengan baju kebaya atau suntiang Mandailing dengan kebaya. Tidak ada yang salah dengan itu, selama masih sedap dipandang mata. Satu solusi tepat yang saya pernah lihat adalah, ada pengantin Minang memakai kebaya namun potongannya seperti baju kurung, alasannya adalah karena ia lebih suka memakai kebaya yang ringan di badan tetapi tidak mau meninggalkan makna baju kurung sebagai penutup aurat. Mungkin hal ini patut dicontoh juga 🙂

4) “Baju pengantin harus heboh! Menyeret jika perlu!”

Ini adalah bagian modifikasi dari budaya barat. Di Indonesia sebenarnya tidak ada baju pengantin yang menyeret lantai. Menyeret lantai memang tampak megah, namun harus diperhatikan jangan sampai bikin sulit berjalan, toh bajunya nanti terlipat juga saat di pelaminan, it is just for wedding entrance sake! Hal yang harus diperhatikan lagi adalah proportion ekor baju dengan hiasan kepala. Hiasan kepala tradisional di Indonesia sudah besar-besar, jika ekornya kepanjangan kesannya lomba. Tinggi badan juga jadi penentu seberapa panjang ekornya. Jangan sampai ekornya membuat pengantin terlihat pendek. High heels? Yes, tapi pikirkan juga seberapa capek pake heels super tinggi ketika harus berdiri di pelaminan selama 2 jam. Atau jika pernikahannya mingle, seberapa nyaman jalan-jalan dengan heels tinggi?

Nah, sekian dogma Part I. Will write similar topic soon.

Remember, it is just a wedding, not a marriage.

Love,

The Future-Bride

Posted in Wedding preparation, Wedding thought

Home Wedding: Pros, Cons, Solution, Suggestions

Home wedding sebenarnya sering dilakukan di kota-kota kecil di Indonesia, karena ketersediaan gedung dan lain-lain belum sebanyak kota-kota besar seperti Jakarta. Lagipula, kebanyakan home wedding mengandalkan saudara dan tetangga untuk bantu-bantu, yang kadang sulit dilakukan di kota-kota besar karena dinamika aktifitasnya sangat berbeda dengan penduduk kota kecil.

Masalah yang paling berat untuk home wedding adalah: repot. Tidak seperti di gedung, di rumah tidak ada cleaning service, genset, kursi, dan AC bawaan. Itu artinya semuanya harus disewa. Namun, biasanya genset, kursi dan AC bisa minta provide dari orang dekorasi dan cleaning service bisa minta tolong wedding planner/organizer. Untuk masalah keamanan dan parkir biasanya bisa minta tolong pada management komplek rumah yang nantinya juga di terus kan pada WP/WO.

Masalah pasca-pernikahan, pasti rumah harus dibersihkan. Dekorator biasanya akan membantu membereskan semuanya, namun bagian cleaning tentu menjadi tanggung jawab si empunya rumah. Saran saya sih, pakai jasa cleaning saja seperti Go Clean. Perkiraan saya butuh 2hari berturut-turut agar rumah benar-benar kembali bersih. Jika ada taman rumah yang perlu dibenarkan, baiknya memanggil tukang taman jika tidak mau repot atau kita bisa melakukannya sendiri.

Nah, untuk masalah budget, ada beberapa hal yang menjadi sorotan, menurut pengalaman pribadi.

1) Keuntungan di rumah adalah tidak ada uang sewa venue dan tidak ada charge apa pun. Bahkan, harga buffet catering per pax bisa lebih murah daripada di gedung, karena gedung itu memiliki ketentuan masing-masing makanya terkadang harga per pax buffet nya bisa mahal sekali. Contohnya saja di Auditorium Manggala Wanabakti, buffet start 105k/pax, di Sadono Adiguno 90k/pax dengan vendor catering yang sama.

2) Dekorasi yang berlebihan dan kebanyakan items di rumah malah membuat sumpek. Saran saya, alokasikan budget ke pelaminan saja, sisanya tidak perlu heboh. Jika memang ada budget berlebih, lebih baik dialokasikan pada dekorasi tenda, misal diberi wisteria gantung dan chandelier atau special lighting dari vendor khusus lighting sehingga ambience acara bisa terbangun. Oya, disarankan pula untuk meminta AC, genset dan kursi dari dekorator.

3) Musik. Tidak perlu musik band lengkap untuk di rumah karena malah membuat suasana jadi tidak homey, lagipula mengganggu tetangga dan lingkungan sekitar, walaupun jika kita tinggal di komplek yang sepi. Disarankan musik akustik yang terdiri dari alat musik petik atau alat musik akustik seperti baby grand piano. Selain tidak memakan banyak watt listrik dan genset, suasana juga jadi lebih adem dan tidak memusingkan. Kalau mau hemat budget, buatlah playlist dari iPod yang bisa dimainkan selama resepsi. Alokasikan dana untuk menyewa sound system yang bagus. Suasana tidak akan mati kok walau tanpa live music.

4) Makeup dan busana. Makeup pengantin di Indonesia masih menganut “makin medok makin ayu” padahal tidak begitu adanya. Sekarang banyak yang memilih makeup yang tidak terlalu medok tetapi tetap ‘manglingi.’ Apalagi, kalau home wedding pengantin akan lebih banyak berinteraksi dengan tamu. Jangan sampai muka kelihatan aneh dan berlebihan dari dekat. Nah untuk masalah budget makeup saya agak susah ngasih komentar, karena makeup cocok- cocokan. Menurut saya, pilihlah MUA atau tukang makeup yang paling bikin pede untuk seharian bertatapn muka dan mengobrol dengan para tamu.

Begitu juga dengan busana. Trend gaun menyeret dan kebaya tradisional menyeret menurut saya kurang nyambung kalau dipakai di home wedding. Gunakan busana maksimal sepanjang mata kaki supaya mudah bergerak. Lagi-lagi, karena akan lebih banyak berinteraksi dengan tamu, detil kebaya akan sangat terlihat. Jadi kalau mau, alokasikan budget ke kain yang baik, tidak perlu mahal ampe bikin melarat, cukup french lace kurang dari 1.5jtan lalu biaya alokasikan pula pada detil aplikasi dan payet. Perlu juga dipertimbangkan untuk meminta aplikasi-payet yang tidak terlalu heboh banget, karena pasca-menikah kebayanya bisa dipotong dan dijadikan kebaya kondangan atau acara formal lain. Jadi gak dipakai 1x saja. Jika memang ingin lebih budget lagi, sewa saja. Cari yang detilnya bagus dan potongannya rapi.

5) Foto dan video. Untuk masalah ini, lagi-lagi selera. Ada harga ada barang, karena memang fotografi itu udah dari sononya mahal karena berkaitan dengan lensa. Pada umumnya, lensa yang lebih mahal biasanya hasilnya lebih bagus, makanya fotografer doyan gonta ganti lensa (gak tahu detilnya, tapi ini yang saya pelajari dari teman-teman hobi fotografi). Tapi…tergantung dari tukang jepretnya sih, lagi-lagi selera. Saran saya, cari fotografer dan videografer yang pintar mengambil momen tanpa harus kita pose seharian. Jika ingin menghemat budget, mungkin tidak perlu pakai screen seperti di gedung, harganya bisa 3-4jt sendiri. Apalagi kalo ditambah Live Feed. Menurut saya, foto video home wedding cukup fotografer dan videografer saja.

6) Undangan dan Souvenir. Jika beneran mau menghemat, lebih baik gak kebanyakan mau untuk masalah undangan dan souvenir. Tapi kalaupun mau desain yang lucu, saya belajar dari teman saya, dia beli design dari website creative market lalu mengedit sendiri layout nya melalui adobe photoshop atau vector. Hasilnya diserahkan pada percetakan, layoutnya didiskusikan dulu supaya pas saat dicetak. Nah, terus finishingnya tidak perlu yang heboh. Mungkin cukup embossed saja, ga perlu pakai gold lining dkk. Pilihlah desain yang sudah sophisticated tanpa perlu banyak finishing, dan bermainlah di palet warna yang bagus. Percayalah, seheboh apapun undangan, tetap 90% akan berakhir di tempat sampah. Manage your effort!

7) Hapus hal-hal yang kurang perlu seperti prewedding. Prewedding perlu gak perlu sih. Di mata saya, hasil prewedding gunanya: a) dinikmati sendiri, b) dipajang di depan venue supaya tamu tidak salah masuk/yakin bahwa tidak salah masuk. Nah prinsip saya kalau untuk home wedding, lakukan yang perlu-perlu saja. Jadi saya memutuskan untuk tidak melakukan prewedding. Untuk foto pajangan di depan venue, saya akan memakai foto lamaran yang di print di canvas atau di pigura besar. That’s all. Gak ribet dan tentunya hemat, tujuannya masih tercapai. Sesungguhnya, seberapa bagus foto prewedding kita, gak ngaruh ke kehidupan pernikahan apalagi ke orang lain. It is just an euforia.

8) WO/WP. Pilihlah yang mudahhh bekerja sama karena pernikahan di rumah tidak semudah pernikahan di gedung. Pilih yang cepat tanggap dan pernah melakukan acara di rumah. Jangan lupa minta cleaning service dan koordinasi dengan keamanan setempat.

Home wedding memang ribet, tetapi jika kita bijak dan gak macem-macem (dan tentunya mau repot dengan backup plan) pasti bisa tercapai juga.

Bismillah.

Love,

The Future-Bride

Posted in Wedding preparation, Wedding thought, Wedding Venue

Come Back Stage: Bridezilla

September pertengahan, panick attack dan kegilaan dimulai!

Bener-bener bridezilla galau deh saya. Masih inget kan awalnya galau tema, lalu galau venue, lalu ketika semua tampaknya sudah mau selesai, muncul lagi pertanyaan dan diskusi sama orang tua: masalah acaranya! Yak, terjadi diskusi hebat (tapi tidak alot, kenyal sahaja) apakah yakin akan menyelenggarakan besar-besaran, apa tidak lebih baik uangnya ditabung untuk kehidupan post-wedding?

Jawaban cepat saya jelas, mending nabung. Tapi ada kalanya saya berpikir apakah intimate wedding bisa mengakomodasi keinginan para orang tua dan kapasitas teman saya yang bejibun. Typical Indonesian wedding is obviously well-known. Big party (fancy or not), a lot of people, plates, drinks, 2 hours full without realy catching up with the groom and the bride karena mereka sibuk di pelaminan. I am ready for that kind of wedding, somehow, kind of i’d being taught to be familiar with that. Tetapi ada rasa iri sama nikahan bule, yang santai dan menyenangkan. It is not like that I don’t want to celebrate my special day with a lot of friends, surrounding by everyone that ever knew me, close friend or acquintance. But hey, everything is about budget and how could I survive without money after the wedding?

It always be my concern, to be honest.

3 digit millions is SOMEthing.

So my best answer is: depends on my parents! Nah, di hari tanggal belasan September, setelah membandingkan plus minus (everything comes with the price) maka tercetus lah suatu kesepakatan: intimate wedding. It should be agreed months ago!! Kayak deja vu. I was (and am) so happy but also worry. Intimate wedding cenderung simple, se simple itu sampai-sampai semua detil harus dibicarakan (satir). Ya karena semua orang Indonesia tampaknya grow-up dengan mengetahui tipikal pernikahan yang besar, yang pengantinnya senyum ampe kering di pelaminan, makanan gak abis-abis, dan angpao yang lumayan. Intimate wedding means pengantin bisa bercengkrama dengan para tamu, tanpa harus memajang diri di pelaminan. Biasanya kalo nikahan bule, habis pemberkatan (kalo muslim akad), langsung makan-makan pesta. Yang sulit adalah membayangkan setelah akad nikah dan prosesi jawa (panggih dll), itu masuk ke resepsinya gimana? Kalo di rumah gak mungkin ada kirab. Itu belum terjawab sih, bisa dibicarakan selanjutnya dengan WO.

Nah, kepanikan terjadi di tanggal 12 September, ketika WO inceran saya ngabarin kalo di tanggal yang saya mau sudah booked.

STRES!!!!!!!

Gak sampe 1 jam kemudian, foto dan video yang saya mau pun katanya sudah mau di book klien lain di tanggal yang saya mau. Salah banget emang gak DP dulu kemaren biar bisa dapet tanggal yang saya mau, habis tanggalnya pun masih menjadi obrolan panjang dan tidak berkesudahan. Akhirnya setelah diskusi 2 jam sama si calon, dan ketok palu di tanggal yang sudah didiskusikan, kami mengganti tanggal ke minggu depannya dari tanggal yang kami mau. Karena percuma acara kayak apapun tanpa WO yang kami mau. Untungnya, semua vendor yang saya hubungi sudah oke. Nah, ini dia vendor-vendor yang berhasil kami minta invoice nya:

Venue: rumah.

Catering: Alfabet Catering (geser tanggal).

Dekorasi: kemungkinan besar Azka Anggun Art, mereka baru mau survei ke rumah minggu depan.

Photography & Videography: Antijitters.

WO: Purusatama.

Paes, adat, baju dan kain saudara, makeup saudara: Tari Donolobo dan Sanggar Sri Renggo Sadono.

Makeup: Upan Duvan/Jasmine Lishava

Kebaya dan beskap akad: Tari Donolobo dan Samara Atelier.

Kebaya dan beskap resepsi: Merras Official (masih belum konfirmasi).

Kebaya ibu (akad dan resepsi 1 baju): Samara Atelier.

Entertainment: Joshua Aditya (Expert Entertainment), belum konfirmasi juga.

Invitation & Souvenir: ?

Saya kira yang gila cuma saya aja, ternyata di luar sana banyak bridezilla-bridezilla lainnya. Tadinya mau makeup dengan Mas Heksa (anaknya Bu Tari Donolobo) seperti rencana awal pas nikahan di gedung. Tapi saya merasa intense bangetttt makeupnya kalo buat acara rumahan. He’s good though. Nah, akhirnya keep an eye to Marlene Haliman, ternyata PENUH. Sedih banget banget banget. Akhirnya mencoba Jasmine Lishava dan Upan Duvan, yang fast respond adalah Dede dari Upan Duvan. Orangnya enak diajak diskusi. Sayangnya sampai tulisan ini publish, Jasmine Lishava belum bisa dihubungi. Masalah makeup saya bawel banget, soalnya kan acaranya semi-outdoor, kalo belang tuh keliatan banget sih, makanya harus ati-ati milih MUA. But yea, mereka sama-sama favorit jadi gak mungkin belang harusnya.

Lalu, berbekal panick attack, udah booking-booking juga untuk lamaran, daripada keduluan!

Venue: rumah.

Catering: Ami Catering (Pak Yono).

Dekorasi: DIY.

Photography: Rifan Wahyudi.

Videography: Elle Lui.

Kebaya: Asky Febrianti.

Makeup termasuk ibu dan saudara: Prastita Pontjo

MC: Purusatama

Again, berbekal panick attack, prewed juga langsung ngehubungi vendor hahaha. Belum deal sama sekali sih, baru meeting-meeting aja.

Photography: Hendra Kusuma (IG: mr_hendra)

MUA: Prastita Pontjo

Wardrobe: private property.

Okeh, sekian ceritanya. Next, cerita tentang konsep prewed yang cocok untuk intimate wedding ya. Ciao!

Love, The Bride-to-be

Posted in Wedding preparation, Wedding thought

What Would My Wedding Be Like?

Dari awal saya memang tidak mau memakai wedding planner, alasannya satu, mahal. Dua, saya yang paling tahu konsep apa yang saya inginkan. Tiga, saya tidak merasa perlu konseptor dari WP karena yang penting adalah eksekusi dari WO saat d-day. Jadi saya memutuskan untuk mengkonsep pernikahan saya sendiri dan memberitahu WO nantinya.

Awalnya saya ingin pernikahan saya itu adat jawa, tetapi tanpa siraman dan midodaerani. Jadi benar-benar baju dan dekorasinya saja yang adat. Namun hal itu berubah ketika saya menonton film Cinderella 2015. OMG. Gaunnya bagus banget!!! Tiba-tiba saya kepengen pakai gaun, berarti harus internasional dong. Kebetulan ibu saya juga setuju, karena dia bosen dengan pernikahan jawa (kakak saya nikah pake adat jawa banget, terus dia udah jadi among tamu pernikahan jawa sebanyak 20 kali!). Lalu mulai lah cari-cari kalo internasional seperti apa. Beberapa hal yang saya temukan adalah…pernikahan ala internasional di Indonesia itu lebay. Selera sih ya. Warnanya serba putih, ball gown ala princess, mahkota, dan lain sebagainya.

This is not me. Lagi-lagi, selera ya.

Lalu akhirnya saya bikin moodboard di Pinterest, baru deh ketahuan pernikahan non-adat seperti apa yang saya inginkan: Indo-Belanda. Ini berarti lebih banyak warna kayu, bunga-bunga non-pastel, barang-barang antik, it doesn’t matter mau pakai gaun atau kebaya sama-sama bisa blend, any warm color would be good, lagu-lagu jadul atau lagu-lagu jaman sekarang yang di aransemen menjadi jukebox atau jazzy, neo-soul, anything classic ala-ala film Habibie Ainun atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sedihnya adalah, ketika saya mengutarakan tema saya ke vendor-vendor dekorasi, mereka selalu mau bikinin pelaminan gaya kolonial dengan bangunan putih dan pilar-pilar kayak di Museum Bank Indonesia.

Well, mungkin masuk dengan tema ya, tapi entah kenapa saya gak suka, takut norak. Saya lebih suka mereka ambil elemen-elemen jendela belanda lalu di mix dengan garden supaya bunganya banyak, gak kering kerontang. Karena kalau salah-salah, bisa-bisa jadinya kolonial betawi atau kolonial jawa. Padahal moodboard saya jauuuuh dari itu. Jadi my final theme is: Classic Vintage-Europe.

Itu berarti akan ada chandelier, atau lampu carla, dengan barang-barang antik seperti jam weker tembaga, lilin-lilin, warna kayu, banyak unsur garden tapi juga mix bangunan, bunga-bunga berwarna deep atau dusty. Buku-buku tua yang ditumpuk, piring-piring keramik, etc.

Tuxedo untuk pria akan tuxedo grey dengan hint warna cokelat dan dasi berwarma merah marun, sementara dress resepsi saya akan berwarna dusty pink atau salem, kali ini bukan ball gown, tetapi gaun A-line dengan organdi Ellie Saab yang transparan dan 3D high quality lace. Dandanan minimalis yang penting manis dan tentunya tidak princess-y look, lebih ke couture. Baju akad, calon saya maunya pake tuxedo yang sama, jadi 1 tuxedo 2 looks. Kalo saya maunya baju akad saya itu lace dress yang simple, penuh lace, ada payet di ujung-ujungnya. Jadul tapi tetep manis. Namun belakangan si calon pengen saya pake kebaya. Jadi mulai Maret ini saya berpikir untuk pakai 1 kebaya dengan 2 looks, karena memang sih orang Indonesia itu sebenernya lebih cocok pake kebaya, entah kenapa. Saya juga jujur lebih pede pakai kebaya, daripada pake ballgown yang bikin saya tidak berpinggang dan jadi mengharuskan saya pakai sepatu hak tinggi banget (blah!) dan kebanyakan warna putih padahal kulit saya eksotis. Tapi mudah-mudahan nanti kebaya resepsi saya nyaru dengan gaun A-line, jadi gak terlalu tradisional tapi dibilang modern juga tidak. Bingung deh hahah.

Tadinya saya mau memasukkan piano quintet untuk musik saya (6 string sections terdiri dari biola, viola, cello dan piano), namun tidak semua orang suka klasik (walau saya suka banget). Jadi saya ubah, musiknya akan lebih jazz, jukebox, soul. Saya kurang suka musik ala-ala band yang berisik, saya lebih suka yang moodnya santai seperti di lounge, tapi groovy juga oke agar tidak ngantuk. Baby grand piano would make a difference, pokoknya non electric instrument.

Kira-kira hanya dekorasi, musik dan baju sih yang bisa nge-set konsep dan mood pernikahan. I hope it goes well!

Love,

Bridecrisis

Posted in Wedding preparation, Wedding thought

Wedding References

Let’s talk in bahasa 🙂

Hal pertama yang saya lakukan dalam menyiapkan pernikahan adalah googling. Sekarang banyak web dan media sosial yang bisa digunakan untuk inspirasi pernikahan. Beberapa web yang sering saya datangi adalah Bride Dept untuk mencari pernikahan-pernikahan unik sekaligus untuk mencari inspirasi agar pernikahannya unik dan berkesan. Banyak pasangan yang tampil beda dengan konsep yang unik-unik di Bride Dept dan cerita mereka juga lucu-lucu. Sosial media yang saya sering lihat untuk inspirasi adalah Pinterest. Kebanyakan yang ada di pinterest adalah pernikahan-pernikahan ala western, kebetulan saya pecinta film-film klasik seperti Gone With the Wind, The Sound of Music, Ben Hur, film-film semacam itu. Dari sini jugalah saya menemukan minat saya untuk membuat konsep pernikahan 🙂

Web lain yang sangat berguna untuk persiapan pernikahan adalah Bridestory. Bukan untuk inspirasi tetapi untuk mencari vendor-vendor dan sekaligus bisa melihat pricelist, contact person, dan beberapa portofolio mereka. Enaknya lagi, di web ini bisa mensortir range harga vendor. Jadi kalau kamu bride to be seperti saya yang concern banget masalah budget dan sudah membagi-bagi bagian apa yang splurge the money dan mana yang save the money, ini bisa jadi pilihan yang tepat. Tapi tidak jarang juga pricelist nya meleset, di web dibilang affordable pas saya kontak vendornya, ya mahal-mahal juga. Dor.

Nah setelah tahu nama-nama vendornya, saya cross-check ke Instagram. Biasanya vendor lebih banyak posting portofolio mereka di Instagram. Walaupun terkadang foto bisa menipu, tetapi bagi saya jika apa yang ada di foto menarik, saya akan lebih tertarik untuk follow up mereka, terutama jika mereka ‘tampaknya’ satu selera dengan saya.

Berangkat dari browsing-browsing, biasanya saya follow up via whatsapp, LINE, atau bahkan langsung saya telepon. Nah, saya punya tips untuk kalian yang sedang sama-sama berburu vendor:

1. Pilih dulu vendor yang kira-kira sesuai dengan selera kalian, supaya tidak terlalu banyak vendor yang kalian follow up. Contohnya vendor dekorasi. Setiap bride-to-be pasti punya selera, tidak semua vendor bisa menyesuaikan selera kalian karena setiap vendor juga punya selera. Menurut saya sih, kalau kalian melihat portofolio mereka tidak cocok dengan selera dan tema kalian, langsung saja eliminasi. Kadang memaksakan vendor dekorasi untuk menyamakan dengan tema kalian, hasilnya tidak maksimal. Misal, ada vendor portofolionya untuk dekorasi outdoor, jadi tone-nya rustic, dengan kayu washed out, bunga-bunga liar, dan lampu-lampu bohlam. Walaupun bagus dan kalian suka, jika tema kalian ada elegant classic, tentunya tidak akan masuk karena mereka memang basicnya rustic. Saya jarang melihat vendor dekor yang benar-benar jago di semua tema. Apalagi untuk vendor dekor tradisional, kalian paksakan untuk modern internasional, saya yakin hasilnya akan beda dengan vendor yang terbiasa internasional. Walaupun, mereka akan menjual bahwa mereka bisa dekorasi bertema apapun. So, choose wisely! 🙂

2. Jika sudah memilih kandidat, pastikan tanyakan pricelist dan apa saja yang mereka berikan di dalam pricelist itu. Misal pricelist wedding dress atau kebaya, tanyakan apakah harga sudah termasuk bahan. Jika mereka menyebut ‘starting price,’ biasanya mereka tidak bisa memberikan harga di bawah starting price itu.

3. Pastikan kalian bertemu langsung dengan vendor tersebut, dan yang paling baik adalah kalian set a meeting di luar pameran. Karena saat pameran mereka biasanya tidak fokus karena banyak klien. Saya sendiri lebih suka meeting saat lunch di weekdays atau after office hour, atau bahkan weekend. Memang capek, but trust me kamu akan lebih paham si vendor dengan bertemu di meeting 🙂

4. Tentukan maksimum budget per vendor. Jika tidak, kamu tidak bisa menghitung berapa banyak kamu akan mengeluarkan budget untuk satu vendor. Jadi kamu harus set dari awal, lalu hubungi vendor, lalu compare. Jangan takut untuk ngobrol dengan dekor yang di atas budget kalian, karena saya pernah bertemu dengan vendor dekor ber-budget 300 juta, padahal budget saya hanya 100 juta. Namun di quotation akhir mereka bisa lho kasih harga spesial sebesar 189 juta. Masih kemahalan, tapi jauh banget dari harga 300 juta kan? Jadi buka opsi sebesar-besarnya, dan jangan lupa, logika juga harus main lho dalam menentukan budget.

5. Berteman lah dengan vendor kalian karena kalian akan dapat banyak complimentary. Caranya adalah bukan mengumbar janji-janji akan deal dengan mereka, tetapi berbicaralah layaknya dengan teman, ajak ngobrol santai, dan banyak-banyaklah berdiskusi. Sejauh ini saya selalu dapat complimentary dari dekorasi, venue, dan wedding dress hanya karena saya rajin ngajak diskusi. Contohnya waktu saya mau pinjam veil untuk akad nikah, harusnya tidak boleh karena saya hanya pakai baju resepsi dia, tetapi karena sudah kenal, jadi dipinjemin deh. Lalu vendor dekorasi, dia memberi harga sedikit lebih tinggi dari budget saya tetapi saya dapat free entertainment decoration, free VIP decoration, free hand bouquet dan corsage, juga free akad nikah set. Padahal saya belum deal apa-apa lho 🙂

Nah kira-kira begitulah wedding thought kali ini. Masih banyak thoughts lain yang akan saya post 🙂

Love,

Bridecrisis

 

Posted in Wedding preparation, Wedding thought

It’s All Begin…

Okay, let’s write about it.

So.

I’ve been a bridezilla since January 2016, when my 5-years-relationship boyfriend and I decided to get married (hopefully) next year. If you wondering did he propose me in a fancy restaurant, or amazing beach with its wind and wave blowing my hair, or simple romantic dinner, or maybe a bouquet of flower with a ring on it, or crazily-imaginative he putted a ring in my wine or cake.

I am sorry but the answer is no. LOL. So it is a decision from both of us, in my apartment’s living room when the TV on and we’re chewing our cheap dinner. But still, I was so excited (and still). I have my own dream wedding, like every women have. Decent venue, beuatifully decorated with flowers, amazing laser-cut styrofoam as a wedding backdrop where we stand and smile for 2 hours, delicious food, good music, and so on. It should be my once in a lifetime experience having a big party with all my friends and families and hundred parent’s friends (whom I barely known, tho’). That’s my imagination in the very first place. I have no idea how complicated the preparation will be. So when you read this post, I’ve been suffering from a disease called bride-zilla for 3 months already.

BUT WELL, this disease brings me to this blog and I’ll share you whatever about my wedding preparation. It’s fun, it’s sad, it’s disappointing, it is exciting, it’s everything. And it really needs two to tango.

Here were my checklist to do for my wedding preparation, as you might continue read my blog, some checklist will be eliminated or added. This checklist is made in January 2016:

1. Venue: should accomodate 2000 persons/pax.

2. Decoration: Javanese modern touch.

3. Catering: following my brother’s wedding in 2014.

4. Music: same as no.3

5. Dress: kebaya and beskap.

6. Wedding organizer: same as no.3

7. Invitation: cheap but decent.

8. Souvenir: cheap but decent, usual souvenir like jar, or glass, etc

9. Photobooth

10.Video and Photography

There were A LOT THINGS TO DO, yes?

Love,

Bridecrisis