Posted in Wedding thought

Dogma Pernikahan Pt. 1: Makeup dan Baju

By personal experience and thought aja ya πŸ™‚

1) “Makeup pengantin itu harus tebal, biar kelihatan dan beda sama tamu!”

Saya kurang paham ya kenapa bisa ada dogma seperti ini. Secara garis besar, jika ditelusuri, tiap daerah memiliki pahamnya masing-masing. Misal di Korea, pernikahan tradisional mereka dengan makeup bulatan merah di pipi (Aspaebek), Di area terpencil di Kosovo wajah pengantin dicat putih dan digambar dengan warna dan bentuk-bentuk sebagai simbol, di Ribnovo-Bulgaria juga begitu. Nah kalau di Indonesia, selain hiasan kepala yang variatif, makeup tebal pengantin memang sudah semacam tradisi, bahkan sampai sekarang. Ada beberapa pakem makeup tradisional yang di percaya tidak boleh ditinggalkan. Walau begitu mulai banyak makeup artist yang menjamur dengan mengusung konsep makeup-pengantin yang lebih natural, tidak mengubah total wajah pengantin, hanya emphasize yang sudah ada. HOWEVER, menurut saya tebal makeup para MUA ini enough untuk sebuah acara pernikahan, gak lebih gak kurang, just right.

IMO, yang perlu diperhatikan adalah cocok tidaknya si hiasan kepala dengan makeup yang diusung oleh para MUA ini. Saya menemukan ada beberapa MUA yang kurang ‘ nyambung’ makeupnya dengan hiasan kepala tradisionalnya. Misal, hiasan kepala jawa dan sunda atau padang, itu feel nya beda. Kalau Jawa makeupnya kurang bisa yang red-tone atau pinkish, tapi kalau Padang masih nyambung, begitu juga Sunda. Again, ini personal opinion. IMO, harus banyak-banyak lihat portofolio MUA dengan hiasan kepala tradisional untuk melihat kecocokannya.

Beda lagi jika temanya internasional, jaman sekarang sudah banyak MUA khusus makeup internasional yang lebih subtle dan sama sekali tidak merombak wajah si pengantin supaya match dengan wedding gown mereka yang subtle juga (rata-rata warna putih). Ini juga harus dilihat periasnya terbiasa makeup tradisional atau internasional. Bagus kalau bisa dua-duanya, jangan sampai salah pilih.

2) “Kita bisa tradisional tapi bisa dimodifikasi juga kok, Mbak!”

WELL. Once you decided to go with traditional, do not go half-hearted. Saya pernah lihat busana tradisional pengantin yang dimodifikasi, tapi hasilnya kayak editorial purposed, fashion purposed, jadi aneh kalau dipakai pengantin. Kalau mau setengah-setengah seperti itu lebih baik modern sekalian, atau tradisional sekalian. Mungkin dogma yang benar adalah: tradisional tapi tidak kuno. Misal, di adat Jawa ada baju beludru hitam pengantin dengan benang gim emas. Nah, jaman dahulu, gak pake baju di fitting-fitting, plek aja dipakai jadinya bajunya kegedean, gak pas badan, dan keliatan berat. Nah biar gak keliatan kuno, jaman Sekarang baju di fitting hingga pas badan, benang gimnya juga polanya mungkin berbeda tetapi tidak over-do. Hal-hal seperti itu yang Menurut saya harus di adjust, daripada memaksakan mix tradisional dengan modern.

ANYWAY, terkadang ‘modern’ yang dimaksud vendor adalah menggabungkan traditional dengan western style. Contoh paling gampang, kebaya dengan bawahan ball gown. Kebaya pas badan tapi bawahnya gede, I don’t know how it could work? Semuanya balik ke selera lagi, tapi yang perlu diperhatikan adalah, gak semuanya harus dimodernisasi kok. Choose wisely!

3) “Baju pengantin harus kebaya!”

Saya ga tahu juga bagaimana ceritanya kebaya menjadi busana nasional. Setahu saya, kebaya adalah punyanya suku yang tinggal di daratan Pulau Jawa, bener-bener disitu doang. Sisanya adalah baju kurung di daratan Sumatera, karena pengaruh islamnya yang kuat dan baju kurung bisa dibilang menutup aurat, lalu baju bodo untuk Sulawesi, dan daerah lain adalah baju berkain tenun. Sekarang mulai banyak pengantin yang kembali ke baju tradisional masing-masing sesuai adatnya dengan sedikit modifikasi (seperti yang saya sebut di atas). Tapi ada juga yang mix adat, misal suntiang Minang dengan baju kebaya atau suntiang Mandailing dengan kebaya. Tidak ada yang salah dengan itu, selama masih sedap dipandang mata. Satu solusi tepat yang saya pernah lihat adalah, ada pengantin Minang memakai kebaya namun potongannya seperti baju kurung, alasannya adalah karena ia lebih suka memakai kebaya yang ringan di badan tetapi tidak mau meninggalkan makna baju kurung sebagai penutup aurat. Mungkin hal ini patut dicontoh juga πŸ™‚

4) “Baju pengantin harus heboh! Menyeret jika perlu!”

Ini adalah bagian modifikasi dari budaya barat. Di Indonesia sebenarnya tidak ada baju pengantin yang menyeret lantai. Menyeret lantai memang tampak megah, namun harus diperhatikan jangan sampai bikin sulit berjalan, toh bajunya nanti terlipat juga saat di pelaminan, it is just for wedding entrance sake! Hal yang harus diperhatikan lagi adalah proportion ekor baju dengan hiasan kepala. Hiasan kepala tradisional di Indonesia sudah besar-besar, jika ekornya kepanjangan kesannya lomba. Tinggi badan juga jadi penentu seberapa panjang ekornya. Jangan sampai ekornya membuat pengantin terlihat pendek. High heels? Yes, tapi pikirkan juga seberapa capek pake heels super tinggi ketika harus berdiri di pelaminan selama 2 jam. Atau jika pernikahannya mingle, seberapa nyaman jalan-jalan dengan heels tinggi?

Nah, sekian dogma Part I. Will write similar topic soon.

Remember, it is just a wedding, not a marriage.

Love,

The Future-Bride

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s