Posted in Wedding preparation, Wedding thought, Wedding Venue

Come Back Stage: Bridezilla

September pertengahan, panick attack dan kegilaan dimulai!

Bener-bener bridezilla galau deh saya. Masih inget kan awalnya galau tema, lalu galau venue, lalu ketika semua tampaknya sudah mau selesai, muncul lagi pertanyaan dan diskusi sama orang tua: masalah acaranya! Yak, terjadi diskusi hebat (tapi tidak alot, kenyal sahaja) apakah yakin akan menyelenggarakan besar-besaran, apa tidak lebih baik uangnya ditabung untuk kehidupan post-wedding?

Jawaban cepat saya jelas, mending nabung. Tapi ada kalanya saya berpikir apakah intimate wedding bisa mengakomodasi keinginan para orang tua dan kapasitas teman saya yang bejibun. Typical Indonesian wedding is obviously well-known. Big party (fancy or not), a lot of people, plates, drinks, 2 hours full without realy catching up with the groom and the bride karena mereka sibuk di pelaminan. I am ready for that kind of wedding, somehow, kind of i’d being taught to be familiar with that. Tetapi ada rasa iri sama nikahan bule, yang santai dan menyenangkan. It is not like that I don’t want to celebrate my special day with a lot of friends, surrounding by everyone that ever knew me, close friend or acquintance. But hey, everything is about budget and how could I survive without money after the wedding?

It always be my concern, to be honest.

3 digit millions is SOMEthing.

So my best answer is: depends on my parents! Nah, di hari tanggal belasan September, setelah membandingkan plus minus (everything comes with the price) maka tercetus lah suatu kesepakatan: intimate wedding. It should be agreed months ago!! Kayak deja vu. I was (and am) so happy but also worry. Intimate wedding cenderung simple, se simple itu sampai-sampai semua detil harus dibicarakan (satir). Ya karena semua orang Indonesia tampaknya grow-up dengan mengetahui tipikal pernikahan yang besar, yang pengantinnya senyum ampe kering di pelaminan, makanan gak abis-abis, dan angpao yang lumayan. Intimate wedding means pengantin bisa bercengkrama dengan para tamu, tanpa harus memajang diri di pelaminan. Biasanya kalo nikahan bule, habis pemberkatan (kalo muslim akad), langsung makan-makan pesta. Yang sulit adalah membayangkan setelah akad nikah dan prosesi jawa (panggih dll), itu masuk ke resepsinya gimana? Kalo di rumah gak mungkin ada kirab. Itu belum terjawab sih, bisa dibicarakan selanjutnya dengan WO.

Nah, kepanikan terjadi di tanggal 12 September, ketika WO inceran saya ngabarin kalo di tanggal yang saya mau sudah booked.

STRES!!!!!!!

Gak sampe 1 jam kemudian, foto dan video yang saya mau pun katanya sudah mau di book klien lain di tanggal yang saya mau. Salah banget emang gak DP dulu kemaren biar bisa dapet tanggal yang saya mau, habis tanggalnya pun masih menjadi obrolan panjang dan tidak berkesudahan. Akhirnya setelah diskusi 2 jam sama si calon, dan ketok palu di tanggal yang sudah didiskusikan, kami mengganti tanggal ke minggu depannya dari tanggal yang kami mau. Karena percuma acara kayak apapun tanpa WO yang kami mau. Untungnya, semua vendor yang saya hubungi sudah oke. Nah, ini dia vendor-vendor yang berhasil kami minta invoice nya:

Venue: rumah.

Catering: Alfabet Catering (geser tanggal).

Dekorasi: kemungkinan besar Azka Anggun Art, mereka baru mau survei ke rumah minggu depan.

Photography & Videography: Antijitters.

WO: Purusatama.

Paes, adat, baju dan kain saudara, makeup saudara: Tari Donolobo dan Sanggar Sri Renggo Sadono.

Makeup: Upan Duvan/Jasmine Lishava

Kebaya dan beskap akad: Tari Donolobo dan Samara Atelier.

Kebaya dan beskap resepsi: Merras Official (masih belum konfirmasi).

Kebaya ibu (akad dan resepsi 1 baju): Samara Atelier.

Entertainment: Joshua Aditya (Expert Entertainment), belum konfirmasi juga.

Invitation & Souvenir: ?

Saya kira yang gila cuma saya aja, ternyata di luar sana banyak bridezilla-bridezilla lainnya. Tadinya mau makeup dengan Mas Heksa (anaknya Bu Tari Donolobo) seperti rencana awal pas nikahan di gedung. Tapi saya merasa intense bangetttt makeupnya kalo buat acara rumahan. He’s good though. Nah, akhirnya keep an eye to Marlene Haliman, ternyata PENUH. Sedih banget banget banget. Akhirnya mencoba Jasmine Lishava dan Upan Duvan, yang fast respond adalah Dede dari Upan Duvan. Orangnya enak diajak diskusi. Sayangnya sampai tulisan ini publish, Jasmine Lishava belum bisa dihubungi. Masalah makeup saya bawel banget, soalnya kan acaranya semi-outdoor, kalo belang tuh keliatan banget sih, makanya harus ati-ati milih MUA. But yea, mereka sama-sama favorit jadi gak mungkin belang harusnya.

Lalu, berbekal panick attack, udah booking-booking juga untuk lamaran, daripada keduluan!

Venue: rumah.

Catering: Ami Catering (Pak Yono).

Dekorasi: DIY.

Photography: Rifan Wahyudi.

Videography: Elle Lui.

Kebaya: Asky Febrianti.

Makeup termasuk ibu dan saudara: Prastita Pontjo

MC: Purusatama

Again, berbekal panick attack, prewed juga langsung ngehubungi vendor hahaha. Belum deal sama sekali sih, baru meeting-meeting aja.

Photography: Hendra Kusuma (IG: mr_hendra)

MUA: Prastita Pontjo

Wardrobe: private property.

Okeh, sekian ceritanya. Next, cerita tentang konsep prewed yang cocok untuk intimate wedding ya. Ciao!

Love, The Bride-to-be