Posted in Wedding preparation

Wedding Theme: Mulai Dari Nol!

Jadi ceritanya, tiba-tiba saya kepikiran bahwa pernikahan itu (mudah-mudahan) hanya dilaksanakan satu kali seumur hidup. Awalnya saya kepikiran untuk membuat tema pernikahan nasional saja, karena gamau pusing dengan segala keribetan kayak pakai sanggul gede-gede, atau makeup yang terlalu tebal.

TAPI saya kepikiran, loh bukannya karena nikah hanya sekali, kapan lagi pakai paes jawa? Kapan lagi pake suntiang? Kapan lagi pakai kebaya panjang-panjang?
Akhirnya, saya memutuskan untuk mengubah konsep pernikahan saya menjadi tradisional.

BRIDEZILLA GALAU.

Oke, mari buang ke tong sampah mimpi-mimpi kemarin itu, mari memulai yang baru.

Tema sudah bisa dipastikan, dan insya Allah kali ini enggak galau lagi karena udah di accept oleh semua pihak (termasuk pacar saya, yang ternyata udah dari awal prefer pernikahan adat tapi diem-diem aja karena pacarnya excited duluan #zonk).

Tema akad: Minang. Oleh karena si pacar punya darah minang tepatnya daerah Maninjau, Kabupaten Agam (sampe googling). The problem is, seriusan bakal pake suntiang pas akad? Setelah googling sana-sini sampai tanya vendor-vendor minang, daerah Maninjau itu hiasan kepalanya kalo gak suntiang ya rumah gadang. Saya sih suka-suka aja ama dua-duanya, tapi si pacar lebih suka yang pake suntiang. Ya sudah, nurut….Rencananya bajunya juga pakai baju kurung (karena di minang memang tidak ada adat memakai kebaya), tidak lupa pakai henna di tangan, dan pakai pelaminan akad dengan tabir 7 (yang kayak korden berlapis-lapis gitu).

Selain suntiang, adat Bayur Maninjau juga bisa pakai ini

Tema resepsi: Jawa. Oleh karena saya keturunan jowo tenan, jadi diputuskan resepsinya harus jawa sekali. Dari mulai dekor sampai bajunya kalau bisa jawa klasik. Tidak lupa paesnya juga tidak boleh ketinggalan. Alat musik gamelan saya juga pengen sewa dari sanggar riasnya sekalian, juga para penari supaya terasa banget jawanya (itu juga kalo gak mahal).

Nah, untuk vendor hunting cenderung lebih gampang dan banyak pilihan ya, dan saya tahu bagaimana harus meng-QC tiap vendor karena cukup paham lah dengan adat minang dan jawa. Kelihatannya emang lebih rumit sih karena kalau adat kan pernak perniknya banyak, tapi again…kapan lagi pakai suntiang dan paes?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s