Posted in Wedding preparation, Wedding thought

What Would My Wedding Be Like?

Dari awal saya memang tidak mau memakai wedding planner, alasannya satu, mahal. Dua, saya yang paling tahu konsep apa yang saya inginkan. Tiga, saya tidak merasa perlu konseptor dari WP karena yang penting adalah eksekusi dari WO saat d-day. Jadi saya memutuskan untuk mengkonsep pernikahan saya sendiri dan memberitahu WO nantinya.

Awalnya saya ingin pernikahan saya itu adat jawa, tetapi tanpa siraman dan midodaerani. Jadi benar-benar baju dan dekorasinya saja yang adat. Namun hal itu berubah ketika saya menonton film Cinderella 2015. OMG. Gaunnya bagus banget!!! Tiba-tiba saya kepengen pakai gaun, berarti harus internasional dong. Kebetulan ibu saya juga setuju, karena dia bosen dengan pernikahan jawa (kakak saya nikah pake adat jawa banget, terus dia udah jadi among tamu pernikahan jawa sebanyak 20 kali!). Lalu mulai lah cari-cari kalo internasional seperti apa. Beberapa hal yang saya temukan adalah…pernikahan ala internasional di Indonesia itu lebay. Selera sih ya. Warnanya serba putih, ball gown ala princess, mahkota, dan lain sebagainya.

This is not me. Lagi-lagi, selera ya.

Lalu akhirnya saya bikin moodboard di Pinterest, baru deh ketahuan pernikahan non-adat seperti apa yang saya inginkan: Indo-Belanda. Ini berarti lebih banyak warna kayu, bunga-bunga non-pastel, barang-barang antik, it doesn’t matter mau pakai gaun atau kebaya sama-sama bisa blend, any warm color would be good, lagu-lagu jadul atau lagu-lagu jaman sekarang yang di aransemen menjadi jukebox atau jazzy, neo-soul, anything classic ala-ala film Habibie Ainun atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sedihnya adalah, ketika saya mengutarakan tema saya ke vendor-vendor dekorasi, mereka selalu mau bikinin pelaminan gaya kolonial dengan bangunan putih dan pilar-pilar kayak di Museum Bank Indonesia.

Well, mungkin masuk dengan tema ya, tapi entah kenapa saya gak suka, takut norak. Saya lebih suka mereka ambil elemen-elemen jendela belanda lalu di mix dengan garden supaya bunganya banyak, gak kering kerontang. Karena kalau salah-salah, bisa-bisa jadinya kolonial betawi atau kolonial jawa. Padahal moodboard saya jauuuuh dari itu. Jadi my final theme is: Classic Vintage-Europe.

Itu berarti akan ada chandelier, atau lampu carla, dengan barang-barang antik seperti jam weker tembaga, lilin-lilin, warna kayu, banyak unsur garden tapi juga mix bangunan, bunga-bunga berwarna deep atau dusty. Buku-buku tua yang ditumpuk, piring-piring keramik, etc.

Tuxedo untuk pria akan tuxedo grey dengan hint warna cokelat dan dasi berwarma merah marun, sementara dress resepsi saya akan berwarna dusty pink atau salem, kali ini bukan ball gown, tetapi gaun A-line dengan organdi Ellie Saab yang transparan dan 3D high quality lace. Dandanan minimalis yang penting manis dan tentunya tidak princess-y look, lebih ke couture. Baju akad, calon saya maunya pake tuxedo yang sama, jadi 1 tuxedo 2 looks. Kalo saya maunya baju akad saya itu lace dress yang simple, penuh lace, ada payet di ujung-ujungnya. Jadul tapi tetep manis. Namun belakangan si calon pengen saya pake kebaya. Jadi mulai Maret ini saya berpikir untuk pakai 1 kebaya dengan 2 looks, karena memang sih orang Indonesia itu sebenernya lebih cocok pake kebaya, entah kenapa. Saya juga jujur lebih pede pakai kebaya, daripada pake ballgown yang bikin saya tidak berpinggang dan jadi mengharuskan saya pakai sepatu hak tinggi banget (blah!) dan kebanyakan warna putih padahal kulit saya eksotis. Tapi mudah-mudahan nanti kebaya resepsi saya nyaru dengan gaun A-line, jadi gak terlalu tradisional tapi dibilang modern juga tidak. Bingung deh hahah.

Tadinya saya mau memasukkan piano quintet untuk musik saya (6 string sections terdiri dari biola, viola, cello dan piano), namun tidak semua orang suka klasik (walau saya suka banget). Jadi saya ubah, musiknya akan lebih jazz, jukebox, soul. Saya kurang suka musik ala-ala band yang berisik, saya lebih suka yang moodnya santai seperti di lounge, tapi groovy juga oke agar tidak ngantuk. Baby grand piano would make a difference, pokoknya non electric instrument.

Kira-kira hanya dekorasi, musik dan baju sih yang bisa nge-set konsep dan mood pernikahan. I hope it goes well!

Love,

Bridecrisis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s